Jangan Pelit Tersenyum!

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Jangan Pelit Tersenyum!

@KontenTerkini
Selasa, 16 Juli 2019

Jangan Pelit Tersenyum!

Senyuman adalah sihir halal yang mampu menaklukan hati orang yang menerimanya. Berapa banyak orang menjadi teman dan sahabat hanya dimulai dari senyuman. Berapa banyak suami istri yang saling mencintai dimulai dari senyuman. Dan berapa banyak pula orang saling berjauhan hanya karena senyuman.

Apabila anda tidak dapat memberikan kebaikan kepada orang lain dengan kekayaan anda, berilah mereka kebaikan dengan wajah anda yang berseri-seri, disertai akhlak yang baik.

Anda tidak mungkin membahagiakan semua orang dengan harta anda, maka bahagiakanlah mereka dengan senyuman. Oleh sebab itu, dapat kita katakan bahwa orang yang sulit untuk tersenyum adalah orang yang PELIT. Iya, karena ia pelit untuk membagi senyumnya kepada orang lain.

Adakah anda bersikap adil terhadap diri sendiri yang miskin ini? Anda sibuk mengurus aib orang lain, namun menyia-nyiakan ribuan peluang kebaikan supaya anda menjadi pelaku utama di dalamnya. Apa gerangan yang mencegah anda untuk melakukan kebaikan, padahal amal ini sangat mudah dilakukan dan besar pahalanya. Terkadang, anda tidak terbebani melakukannya, hanya sekedar menarik otot wajah sedikit saja agar anda dapat menebar senyuman yang tulus di hadapan wajah orang lain karena Allah. Lantas orang yang anda berikan senyuman itu pun tersipu malu namun bahagia.

Tapi, boleh jadi ia akan mendoakan anda tanpa sepengetahuan anda. Boleh jadi dengan senyuman itu anda menghidupkan hatinya yang sedang sekarat. Boleh jadi, anda mengembalikannya ke pangkuan agama lantaran kerendahan hati anda, boleh jadi…, boleh jadi…., berbagai kemungkinan yang tidak terbatas berawal dari satu kebaikan, yang mana Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam menjadikannya sebagai shadaqah.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah, no. 454.)

Imam al-Munawi Rahimahullah berkata, “Kamu senyum kepada saudaramu seagama adalah sedekah, maksudnya; kamu menampakkan wajah berseri-seri dan riang tatkala kamu berjumpa dengannya, maka kamu akan diberi pahala atasnya sebagaimana kamu diberi pahala sedekah.” (at-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, I/898)

Rasulullah Shallallahu  alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling banyak mempraktekan akhlak ini. Abdullah bin al-Harits berkata,

“Saya tidak pernah melihat orang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam.” (HR. Tirmidzi, no. 3641. Dishahihkan Syaikh al-Albani)

Imam Abdurrahman al-Mubarakfuri Rahimahullah mengatakan, “Karena kondisi yang semmpurna adalah dengan menampakkan keceriaan dan kegembiraan bagi siapa yang menginginkan kelembutan dan kasih sayang beliau.” (Tuhfah al-Akhwadzi, IX/950)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki perangai dan hati yang lembut akan mudah tersenyum kepada orang lain. Karena senyum adalah tanda seseorang memiliki kasih sayang. Betapa lembut diri kita? Cobalah kita lihat kadar senyum kita kepada orang lain.

Tatkala kita bertemu dengan saudara seiman, siapapun orangnya, dari golongan manapun ia berasal, maka jangan pelit untuk memberikan sapaan dan senyuman manis. Betapapun ia, ia masih berstatus muslim saudara kita. Itu lah yang akan membuat kita saudara lebih bersaudara. Sebaliknya, jika kita berpaling dan memalingkan wajah, atau bertemu dengan wajah sinis, sungguh itu akan membuat hatinya hancur, dan akhirnya mengumumkan permusuhan kepada kita.

Mula Ali al-Qari Rahimahullah berkata, “Senyum Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam lebih banyak dari pada tertawanya, tidak seperti kebanyakan manusia, yang mereka lebih banyak tertawa dari pada senyum.”

Hendaknya kita koreksi diri kita, manakah yang lebih banyak antara tertawa dan menertawakan orang lain, atau senyum dan berseri-seri di hadapan orang lain? Apabila jawabannya yang pertama, maka hendaknya kita ber-istighfar dan bertaubat, karena itu merupakan kesalahan. Namun, jika jawabannya yang kedua, maka bergembiralah, karena kita termasuk orang-orang yang dicintai oleh orang lain.
Jarir bin Abdillah Radhiyallahu anhu berkata,

“Semenjak aku masuk Islam, Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam tidak pernah menutup diri dariku. Beliau tidak pernah menatap wajahku kecuali dalam keadaan tersenyum.” (HR. Bukhari, no. 3035)

Dari Abu Dzar al-Ghifari Radhiyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, ‘Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meski kamu hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri.’” (HR. Muslim, no. 6857)

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata, “Maknanya adalah mudah dan periang. Di dalam hadits tersebut terdapat himbauan untuk mengutamakan berbuat yang makruf, dan himbauan untuk berbuat kebaikan yang mudah meskipun sedikit, bahkan hanya wajah berseri-seri tatkala berjumpa dengan saudaranya (muslim).” (Syarh an-Nawawi ‘Ala Muslim, VIII/466)

Suatu ketika ada seorang pemuda muslim yang rajin mengerjakan shalat jamaah ke masjid. Setiap kali berjalan ke masjid, ia melewati seorang preman yang tengah menongkrong di pinggir jalan. Si preman itu sering mencemooh dan memperolok-olok sang pemuda. Namun, dengan kemuliaan akhlaknya, sang pemuda tetap memberikan sapaan dan senyuman manis. Olok-olokan si preman berlangsung lama, namun tidak membuat sang pemuda marah atau merubah sikap baiknya.

Pada suatu kesempatan sang preman bertanya akan hal itu, “Mengapa kamu tidak marah dan masih mau menyapa dan tersenyum, walaupun selalu aku cemooh?”

Sang pemuda menjawab, “Karena cemoohanmu tidak akan membahayakanku. Dan jika aku marah, aku tidak akan mendapatkan manfaat apapun.”

Terkesan dengan akhlak sang pemuda, kemudian si preman memintanya agar ia berkenan menjadi temannya dan membimbingnya. Akhirnya, keduanya menjadi seorang yang shalih dan istiqamah menjalankan agama.

Subhanallah, cobalah kita lihat, hati kasar dan keras si preman pun dapat luntur dengan akhlak dan senyuman. Apa yang kita tunggu untuk berakhlak seperti ini? Sungguh, senyuman yang tercermin dari kelembutan hati tidak mendatangkan apapun kecuali kebaikan.

Mari kita renungkan beberapa nasehat berikut ini :

Senyumlah kepada orang yang mencintai anda, agar ia merasakan getaran cinta anda.
Senyumlah kepada orang yang membenci anda, agar ia menyesali kesalahannya.
Senyumlah kepada orang yang anda kenal, agar ia merasakan kedekatan anda.
Senyumlah kepada orang yang tidak anda kenal, agar ia merasakan persahabatan anda.
Anda tidak akan rugi dengan amal sederhana ini.

Demikianlah sekelumit nasehat tentang amalan ringan yang memiliki daya rubah, yaitu senyum. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah Ta’ala yang senantiasa mengikuti sunnah dan akhlak Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, dan dikumpulkan bersama beliau kelak di surge. Amin Ya Rabbal Alamin. (Muizz Abu Turob)

Sumber : Buletin Al Islam
__________________
Ikuti kami di FANSPAGE, klik : facebook.com/KONTENTERKINI
Baca Juga