Berikut Adalah Hal-Hal Yang Bisa Menjadikan Sholat Sia-Sia -->

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Berikut Adalah Hal-Hal Yang Bisa Menjadikan Sholat Sia-Sia

@KontenTerkini
Sabtu, 22 Juni 2019


KONTENTERKINI.COM - Banyak orang shalat yang bila diperhatikan hanya asal-asalan. Shalat baginya adalah beban. Tujuan pelaksanaanya tak lebih dari menggugurkan kewajiban. Gerakannya tanpa penghayatan dan bacaannya hanya sekadar hafalan. Shalatnya sia-sia dan sedikitpun tidak memberi pengaruh dalam kehidupan.

Padahal, amal seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalat seseorang baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Sebaliknya, jika shalat seseorang buruk, sungguh ia telah gagal dan merugi.

A. Definisi sia-sia
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sia-sia memiliki berarti terbuang-bung saja; tidak ada gunanya (harganya, manfaatnya, hasilnya); percuma; tidak mendapatkan apa-apa. Ini dari sudut pandang bahasa Indonesia. Sedangkan dalam bahasa Arab, berasal dari kata (حبط) yang berarti batal, hilang, sia-sia.

Berkaitan dengan perbuatan sia-sia, sebenarnya Al-Qur’an telah mengisyaratkan dalam beberapa ayat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 لَا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا 

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-furqan: 14)

Ayat ini menceritakan kejadian pada hari kiamat ketika Allah menghisab para hamba-Nya. Seluruh amal yang pernah mereka lakukan di dunia didatangkan . Banyak orang yang menganggap amalnya diterima. Banyak orang yang sudah menunggu pahala. Tetapi, mereka kecewa karena ternyata amalnya sia-sia. Padahal, mereka tidak diberi kesempatan untuk beramal kedua kalinya di dunia.

Seluruh amal yang tidak memenuhi syarat syar’i akan sia-sia. Seluruh perbuatan yang dilakukan tanpa keikhlasan takkan bernilai apa-apa. Seluruh perbuatan yang dikerjakan dengan tidak mengikuti syari’at Allah adalah percuma.

B. Mengapa sholat kita bisa sia-sia ?
Dalam hal ini sebab-sebab yang menjadikan sia-sianya sholat terbagi menjadi dua, yaitu: sebab-sebab internal dan ekternal.

Maksud internal adalah hal-hal yang berhubungan langsung dengan sholat, sementara ekternal adalah hal-hal diluar sholat. Keduanya sama-sama bisa membuat shalat kita sia-sia, tidak diterima, atau minimal berkurang pahalanya.

a) Sebab-sebab internal
Sebab internal yang menjadikan sholat sia-sia adalah tidak terpenuhinya syarat wajib dan sahnya shalat. Beberapa kesalahan yang paling sering dilakukan orang, diantaranya yaitu:

1. Mengabaikan bersuci
Banyak orang shalat yang tidak memperhatikan kesucian badan, pakaian, dan tempat ketika hendak shalat. Padahal, bersuci adalah syarat diterimanya shalat seseorang. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah:

لا يقبل الله صلاة بغير طهور

“Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim)

Menjaga kesucian badan ialah dengan membersihkan hadast kecil atau besar yang ada di tubuh kita, baik badan ataupun pakaian.

2. Tidak  menyempurnakan wudhu
Wudhu adalah salah satu syarat sahnya shalat seseorang karena ia berfungsi untuk menghilangkan hadats kecil. Tanpanya maka shalat tersebut tidak diterima. Sebagaimana sabda Rasulullah:

لا تقبل صلاة احدكم اذا احدث حتى يتوضاء

“ Tidak akan diterima shalatnya orang yang berhadats sehingga dia berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seringkali kita kita menyaksikan orang yang berwudhu asal-asalan dan dalam tempo yang sangat singkat. Ia hanya membasuh anggota ini dan itu tanpa memperhatikan kesempurnaannya. Padahal, wudhu yang tidak sempurna bisa menyebabkan shalat tak berarti apa-apa.

3. Tidak membaca surah Al-Fatihah
Membaca surah Al-fatihah adalah salah satu rukun dalam shalat. Barangsiapa tidak membacanya, maka shalatnya tidak sah. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

لا صلاة لمن لم يقراء بفاتحة الكتاب

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Muslim)

Dalam hadist yang lain, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Tidaklah cukup shalat seseorang bila dia tidak membaca Al-Fatihah dalm shalatnya.” (HR. Daruqutni dan dishahihkannya). Kewajiban tersebut berlaku dalam shalat wajib ataupun sunnah.

4. Tidak menyempurnakan rukuk dan sujud
Hal ini banyak dilakukan oleh banyak orang. Dalam bahasa yang lebih tegas, orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya, statusnya sama dengan orang yang mencuri shalat. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Hakim, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “pencuri yang paling jahat adalah orang yang melakukan pencurian di dalam shalatnya.” Mendengar hal itu, para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana yang dikatakan mencuri dalam shalat itu ?,” Beliau menjawab, “yaitu tidak meyempurnakan rukuk dan sujud.”

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “sungguh seseorang telah shalat selama 60 tahun, tetapi satu pun shalatnya tidak ada yang diterima. Boleh jadi ia menyempurnakan rukuk, tetapi tidak menyempurnakan sujud. Atau menyempurnakan sujud, tetapi tidak menyempurnakan rukuk.” (HR. Abul Qasim Al-Ashbahani dan dinilai hasan oleh Al-Albani)

5. Sengaja mendahului imam
Sengaja mendahului imam dalam shalat berjamaah dapat membatalkan shalat. Misalnya, makmum rukuk sebelum imam rukuk, atau sujud sebelum imam sujud. Baik ia beralasan sudah hafal gerakan shalat, atau karena menganggap imam terlalu lama. Kaduanya sama-sama dapat membatalkan shalat, kecuali bagi orang yang lupa atau tidak tahu.

Sahabat Anas pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya aku adlh imammu, maka janganlah kamu mendahuluiku dalam rukuk, sujud, berdiri, dan salam.” (HR. Muslim)

6. Tidak tumakninah
Menurut Hanafiyah, tumakninah merupakan syarat wajib dalam shalat. Sedangkan menurut Malikiyah dan Hanabilah, ia merupakan rukun shalat.

Tumakninah ialah jika orang yang mengerjakan shalat bersikap tenang dalam rukuk, i’tidal (berdiri dari rukuk), sujud, dan duduk diantara dua sujud. Ia harus ada pada posisi tersebut sehingga setiap ruas tulang menempatkan pada tempatnya yang sesuai. Ia tidak boleh terburu-buru dintara dua gerakan dalam shalat sehingga selesai bertumakninah dalam posisi tertentu dan sesuai waktunya. Oleh karena itu , tumakninah menjadi salah satu dari rukun shalat. Tanpanya, shalat seseorang tidak benar. Bahkan, shalatnya sia-sia dan harus diulang.

7. Tidak khusyuk
Khusyuk adalah ruh shalat. Tanpanya shalat ibarat jasad tanpa nyawa. Khusyuk menurut Ali bin Abi Thalib, tempatnya ada dihati. Ia adalah perasaan di dalam jiwa yang tampak dari anggota badan dalam bentuk ketenangan dan kethawadhukan. Khusyuk merupakan buah dari kokohnya keyakinan di dalam hati terhadap pertemuan dengan Allah.

Menurut Ibnu Taimiyah, khusyuk memiliki dua makna. Pertama, menundukkan diri dan merasa hina. Kedua, tenang dan tumakninah. Sementara itu, khusyuk menurut Ibnul Qayyim adalah menghadapkan hati kepada Allah dengan penuh kerendahan dan kehinaan. Kekhusyukan dalam shalat mengharuskan untuk menundukkan pandangan. Menundukkan pandangan ketempat sujud adalah jalan rcepat menuju khusyuk. Menurut Ibnu Taimiyah, menurunkan pandangan (melihat ketempat sujud) adalah bagian dari kesempurnaan khusyuk.

b) Sebab-sebab eksternal
Maksud dari sebab-sebab eksternal yang menyebabkan shalat sia-sia ialah perbuatan-perbuatan di luar shalat yang jika dikerjakan oleh orang yang mendirikan shalat,  dapat menyebabkan shalatnya tidak diterima atau sia-sia. Diantara sebab-sebab tersebut, yaitu:

1. Mempercayai dukun atau paranormal
2. Meminum minuman keras
3. Menyakiti tetangga
4. Memakai minyak wangi saat pergi kemsjid bagi wanita
5. Memakai pakaian atau barang haram
6. Memutus tali silaturahmi
7. Melakukan perbuatan syirik

III. PENUTUP
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga dengan membaca apa yang telah kami tulis dapat memperbaiki kualitas shalat kita. Dan semoga shalat kita tak ada yang sia-sia bagai debu yang beterbangan. Amiin…

Penulis : Yoko Setiawan (Mahasiswa STEI SEBI)

______________________

REFERENSI
a. Fahrur mu’is, 2014 M, sudah shalat 60 tahun tapi tidak diterima, Solo, aisar
b. Tafsir al-qurtubi, (Al-maktabah As-syamilah)
c. Wahbah Az-zuhaili, 2005 M, Al-wajiz fi Fiqh Al-islami, Damsik, Daar Al-fikr
d. Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman, 2001 M, Koreksi Total Ritual Shalat, Jakarta Selatan, Pustaka Azzam
e. Abbas Mansur Tamam, 2008 M, Seolah Melihat Allah dalam Shalat, Solo, Aqwam
f. Muhammad bin Qusri Al-Jifari, 2013 M, Agar Shalat Tak Sia-sia, Solo, PQS Publishing
g. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-munawwir, Surabaya, Pustaka Progressif

__________________
Ikuti kami di FANSPAGE, klik : facebook.com/KONTENTERKINI



Baca Juga