Hidupkanlah Shalat Tahiyatul Masjid Dan Waspadalah Terhadap Setan Masjid -->

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Hidupkanlah Shalat Tahiyatul Masjid Dan Waspadalah Terhadap Setan Masjid

@KontenTerkini
Senin, 27 Januari 2020


Masjid adalah tempat yang sangat agung. Rumah Allah yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan-keutamaan yang Allah berikan apabila kita masuk kedalam masjid dan melakukan amalan-amalan yang Allah rekomendasikan. Begitu mulia masjid hingga dapat kita rasakan bahwasannya ketika kita merasa tidak tenang atau bahkan kita sulit untuk tidur, lalu kita langkahkan kaki kita ke masjid kita akan dapati ketenangan dalam masjid. Dan mungkin ada sunnah-sunnah dalam msjid yang mungkin jarang kita lakukan dan ternyata terdapat banyak kebaikkan di dalamnya. Dengan ini kita tahu bahwa hendaknya kita senantiasa mengagungkan rumah Allah SWT.

A. Pengertian tahiyatul masjid
 Yang dimaksud dengan shalat Tahiyatul masjid  (sering disebut Tahiyat Masjid saja) adalah shalat yang biasa dikerjakan oleh setiap orang yang baru masuk masjid untuk mengerjakan suatu kegiatan baik shalat berjamaah siang maupun malam ataupun melakukan kajian dan kegiatan lainnya pada setiap masuk masjid. Sholat ini dilakukan dengan tujuan sebagai penghormatan kepada masjid yang merupakan rumah Allah, yaitu rumah untuk beribadah kepada Allah SWT.

B. Hukum shalat tahiyatul masjid
Hukum shalat tahiyatul masjid sunnah.

C. Syarat-syarat shalat tahiyatul masjid 

  • Masuk masjid walaupun di waktu terlarang untuk shalat. Namun jika dia hanya berniat untuk lewat di masjid saja itu tidak termasuk syaratnya.  Disyari’atkannya untuk shalat Tahiyatul Masjid di setiap waktu (tidak ada waktu yang terlarang), karena ia termasuk shalat yang berkaitan dengan sebab (yaitu karena masuk ke masjid). 
  • Dalam keadaan memiliki wudhu. 
  • Tidak masuk masjid ketika khatib keluar untuk khurbah jum’at, shalat ied. Karena kedua waktu itu dilarang untuk shalat. Itu jumhur ulama. 
  • Tidak bertemunya masuk waktu iqomah dalam shalat jama’ah. 


D. Hukum tahiyatul masjid
Ada perbedaan pendapat antara para ulama mengenai hukum shalat tahiyatul masjid

  • Pendapat pertama adalah salah satu pendapat dari Imam Ahmad, juga pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Menurut mereka tidak boleh shalat sunnah tahiyatul masjid ketika itu (waktu terlarang shalat).
  • Pendapat kedua adalah pendapat Imam Asy Syafi’i. Menurut beliau rahimahullah boleh shalat sunnah tahiyatul masjid ketika waktu terlarang tersebut. Inilah pendapat yang lebih tepat. Landasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
“Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).” (HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 1687)

Perintah dalam hadits ini adalah umum untuk semua waktu dan tidak diketahui adanya pengkhususan larangan dalam hadits ini. Adapun yang dimaksud dengan larangan shalat setelah terbit fajar, ketika tenggelamnya matahari, maka hadits larangan tersebut dikecualikan untuk beberapa keadaan. Di antaranya adalah ketika ingin mengqodho shalat yang terluput, atau ingin menunaikan shalat dua raka’at thawaf.

Perlu diketahui bahwa dalil umum yang tidak ada pengkhususan (‘aam mahfuzh) lebih kita dahulukan daripada dalil umum yang ada pengkhususan (‘aam makhsush), shalat dalam dua waktu terlarang tadi atau larangannya lebih ditekankan lagi-, namun telah terdapat hadits shohih di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ وَالْخَطِيبُ عَلَى الْمِنْبَرِ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid dan khotib sedang berkhutbah di mimbar, maka janganlah kalian duduk sampai kalian menunaikan shalat sunnah dua raka’at.”

Apabila dalam waktu khutbah semacam ini diperintahkan untuk melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid dan ketika itu adalah waktu terlarang untuk shalat, maka untuk waktu lainnya (yaitu termasuk waktu terlarang) lebih-lebih diperbolehkan untuk  mengerjakan shalat sunnah ini.

Pendapat Imam Ahmad dalam masalah ini tidaklah menyelisihi karena terdapat hadits yang shohih mengenai masalah ini. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik dalam permasalahan ini, mereka melarang shalat tahiyatul masjid ketika waktu terlarang tersebut. Ini terjadi mungkin karena belum mendapatkan hadits shohih di atas. Wallahu a’lam.

Kesimpulannya adalah boleh kita mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid pada waktu terlarang untuk shalat seperti sesudah shalat Ashar atau sesudah shalat shubuh.

E. Ada sejumlah orang yang dikecualikan dari perintah shalat tahiyatul masjid, yaitu:

- Khatib Jum’at, bilamana dia masuk masjid untuk khutbah Jum’at, tak disunnahkan shalat dua rakaat. Akan tetapi dia segera berdiri ke atas mimbar, dan kemudian mengucapkan salam dan sehabis itu langsung duduk kembali untuk mendengarkan adzan, dan setelah itu baru menyampaikan khutbahnya.

- Pengurus masjid yang bolak-balik keluar masuk dari masjid. Seandainya ia mendirikan shalat tahiyatul masjid setiap masuk masjid, dan hal tersebut maka akan sungguh-sungguh memberatkan baginya.

- Orang yang memasuki masjid ketika imam telah memulai memimpin shalat berjama’ah maupun ketika iqamah dikumandangkan, hingga ia berbaur dengan imam melangsungkan shalat berjama’ah. Disebabkan shalat fardhu telah memenuhi dari melangsungkan tahiyatul masjid.

F. Setan yang menggangu manusia dalam shalat

1. Mengganggu wudhu
Berbagai tipu daya dilakukan oleh setan untuk mengganggu manusia dalam beribadah kepada Allah. Salah satunya adalah mengganggu wudhu. Setan meniupkan hawa-hawa lupa sehingga banyak manusia terperdaya dan ketinggalan rukun wudhu yang menyebabkan wudhunya tidak sah.

2. Memberikan perasaan was-was
Setelah ketinggalan rukun wudhu, setan akan meniupkan hawa was-was dengan mengganggu takbiratul ihram dan niat shalat sehingga kita lagi-lagi was-was, sudah sahkah niat kita?

3. Lupa atau salah bacaan shalat
Sahabat Ummi sering tiba-tiba mendadak hilang fokus atau salah bacaan sholat? Hati-hati, setan mungkin berada di sekitar kita, lagi-lagi meniupkan hawa lupa dan was-was.

Sahabat Utsman bin Affan pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku.” Beliau bersabda, “Itulah setan yang disebut dengan ‘Khanzab’, jika engkau merasakan kehadirannya maka bacalah ta’awudz kepada Allah dan meludah kecillah ke arah kiri tiga kali.” (HR. Ahmad).

4. Lupa rakaat shalat yang dikerjakan
Sama seperti lupa bacaan shalat, setan juga mengganggu shalat dengan membuat kita lupa rakaat yang sudah dikerjakan. Jika hal ini terjadi, segeralah melakukan sujud sahwi sebelum salam.

 Dari Abdurrahman bin 'Auf katanya: "Saya dengar Rasulullah SAW bersabda: 'Jika salah seorang di antaramu ragu dalam shalatnya, hingga ia tidak tahu, apakah baru satu rakaat ataukah sudah dua rakaat, maka baiknya ditetapkannya satu rakaat saja. Jika ia tidak tahu apakah dua atau sudah tiga rakaat, baiknya ditetapkannya dua rakaat. Dan jika tak tahu apakah tiga atau sudah empat rakaat, baiknya ditetapkannya tiga rakaat, kemudian hendaklah ia sujud bila shalat selesai di waktu masih duduk sebelum memberi salam, yaitu sujud Sahwi sebanyak 2 kali'." (H.R.Ahmad, Ibnu Majah dan Turmudzi yang menyatakan sahnya).

5. Merasa ingin buang angin atau ingin buang air
Selain lupa bacaan dan rakaat shalat, yang sering kita alami saat shalat ialah merasa ingin buang angin atau ingin buang air. Sahabat Ummi, lagi-lagi ini salah satu cara setan untuk menggagalkan kekhusuan shalat kita dengan meniupkan rasa was-was dan ragu-ragu.

Sesungguhnya setan mendatangi kalian ketika shalat, lalu dia basahi tempat keluarnya kencing, hingga kalian merasa berhadas (ada kencing yang keluar). Dia juga datang dan menabok dubur kalian, sehingga kalian merasa telah berhadas (kentut). Karena itu, jangan kalian batalkan shalat, sampai mencium bau kentut atau ada yang basah di celana. (HR. Ibnu Abi Syaibah, 8083)

“Jika kalian merasakan ada sesuatu di perutnya tapi masih meragukan apakah ada sesuatu yang keluar ataukah tidak maka janganlah meninggalkan masjid (shalat) sehingga mendengar suara atau mencium baunya.” (HR. Muslim No. 805)

6. Terburu-buru dalam melakukan shalat
Hal yang paling sering kita alami dalam shalat ialah terburu-buru atau tidak tumaninah. Entah karena ada keperluan lain, barang yang ketinggalan, dan berbagai macam alasan lainnya. Sahabat Ummi, Rasulullah bersabda : “Apakahkalian menyaksikan orang ini ?. Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan seperti ini (shalatnya) maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagai orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma. Bagaimana ia bisa merasa kenyang dengannya ?. (H.R Ibnu Khuzaimah).

7. Syetan hadir ketika kita tidak rapi dan rapat dalam shaf shalat
“Rapatkan shaf kalian, rapatkan barisan kalian, luruskan pundak dengan pundak. Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Sungguh aku melihat setan masuk di sela-sela shaf, seperti anak kambing.” (HR. Abu Daud 667, Ibn Hibban 2166, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

"Luruskan shaf, agar kalian bisa meniru shafnya malaikat. Luruskan pundak-pundak, tutup setiap celah, dan buat pundak kalian luwes untuk teman kalian. Serta jangan tinggalkan celah-celah untuk setan. Siapa yang menyambung shaf maka Allah Ta’ala akan menyambungnya dan siapa yang memutus shaf, Allah akan memutusnya." (HR. Ahmad 5724, Abu Daud 666, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)




Daftar pustaka
Ahmad Warson Munawwir, 1997. Al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progresif) Cetaka keempat
Abdurrahman al-Jaziry, 2004.  al-fiqh ala al-Madzaahibi al-Arba’ah, (Kairo: Daarul Hadits)
Abdullah bin Abdirrahman Shalih Ali Basam, Taisirul Alam, (Kairo, Daarul Ibnu Jauzi)
https://muslim.or.id/19262-adab-adab-ketika-di-masjid.html
http://panduansholatsunnah.blogspot.com/2015/06/penjelasan-lengkap-sholat-sunnah.html
http://www.travel-umroh-indonesia.com/2015/04/hikmah-dibalik-shalat-tahiyatul-masjid.html


Oleh : Yoko Setiawan
Fakultas : Hukum Ekonomi Syariah STEI SEBI
________________

Follow Kami di Facebook, klik : facebook.com/KONTENTERKINI || Follow Kami di Instagram, klik : instagram.com/KONTENTERKINI || Follow Kami di Twiter, klik : twiter.com/OPPOSISI
Baca Juga